Belenggu
Dalam novel ini bisa dilihat bahwa hubungan antara Tono dan Tini bukanlah selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Terkesan hanya menjalani sebuah hidup dengan status sosial semata, sementara masalah hati tidak diabaikan dalam bahtera rumah tangga mereka. Sehingga Tono pun lari dalam pelukan Rohayah.
Novel ini juga mengandung kritik sosial kepada para perempuan yang masih saja memandang seseorang hanya dari status sosialnya, seperti sikap Tini saat bertemu dengan Rohayah. Selain itu sindiran juga terlihat pada bagian Tini yang sedang digosipkan oleh teman-teman wanitanya. Seolah ingin menunjukan bahwa masih banyak wanita yang hobi bergunjing.
Keunikan dari novel ini adalah adanya kritik tentang keadaan politik beberapa tahun sebelumnya. Contohnya seperti awal berdirinya Boedi Oetomo yang para anggotanya berasal dari kalangan ningrat dari suku Jawa. Secara gamblang, Armijn Pane melancarkan kritik bahwa tujuan Boedi Oetomo ketika itu bukanlah kemerdekaan secara menyeluruh, tetapi menjaga agar budaya Jawa tidak dipengaruhi oleh budaya Belanda. Maka secara tersirat Armijn Pane tidak menyetujui bahwa Boedi Oetomo disebut sebagai tonggak kebangkitan bangsa.
| G02354P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
| G02353P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
| G02326P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
| G02325P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
| G02324P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
| G02323P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
| G02322P | 813 PAN b | My Library (Rak 800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain